Sejarah Genteng Tanah Liat Dunia (2)

01 March 2016 - Kategori Blog

Revival Style merubah daya tarik atap genteng tanah liat

 

Pada abad mid19th, pengenalan gaya arsitektur ‘Villa Italianate’ di Amerika Serikat telah mendorong minat baru dalam penggunaan genteng tanah liat untuk atap. Ini memiliki efek revitalisasi industri manufaktur genteng tanah liat. Dan pada era 1870-an, telah terbentuk pabrik-pabrik baru termasuk pabrik besar di Akron, Ohio, Baltimore, dan Maryland. Kemudian genteng tanah liat dipromosikan oleh Pameran Centennial di Philadelphia pada Th. 1876, yang menampilkan bangunan, termasuk sebuah paviliun untuk negara bagian New Jersey beratap dengan genteng tanah liat yang berasal dari industry manufaktur lokal. Pada Th. 1870-an, Tile membuat mesin pembuat genteng untuk pertama kali dan telah dipatenkannya. Meskipun atap genteng liat banyak yang terus dibuat dengan tangan, tetapi pada Th. 1880-an pabrik mulai semakin banyak menggunakan mesin. Perkembangan gaya Kebangkitan arsitektur Romawi pada Th. 1890 semakin memperkuat peran genteng tanah liat sebagai bahan bangunan di Amerika.

 

Alternatif pengganti untuk genteng tanah liat pun mulai dibuat dalam rangka memenuhi permintaan baru. Di sekitar Th. 1855, atap lembaran logam yang dirancang dengan meniru pola genteng tanah liat sudah diproduksi. Biasanya dicat warna terra cotta alami untuk meniru warna genteng tanah liat yang asli. Atap lembaran logam ini menjadi populer karena mereka lebih murah dan lebih ringan, serta lebih mudah untuk pengaplikasiannya jika dibandingkan dengan atap genteng tanah liat.

Genteng tanah liat sekali lagi telah mengalami penurunan popularitas dalam tempo yang singkat yaitu pada akhir abad ke-19. Akan tetapi sekali lagi memperoleh penerimaannya kembali di abad ke-20, terutama disebabkan oleh popularitas gaya arsitektur Revival Romantic, termasuk Mission, Spanyol, Mediterania, Georgia dan Renaissance Revival di mana atap genteng tanah liat lebih menonjol. Pabrikan baru pun kembali bermunculan di daerah-daerah seperti Alfred, New York, New Lexington, Ohio, Lincoln, California, dan Atlanta, Georgia, serta Indiana, Illinois dan Kansas. Popularitas atap genteng tanah liat, dan bahan atap pengganti lainnya, terus meningkat di abad ke-20, terutama di daerah Selatan dan Barat Florida dan California, dimana gaya arsitektur Mediterania dan Spanyol masih tetap mendominasi.

Awal bentuk ubin/genteng tanah liat 

Selama abad 17 dan 18 jenis yang paling umum dari genteng tanah liat yang digunakan di Amerika adalah yang berbentuk datar dan persegi panjang. Mereka mengukur sekitar        10 “x 6” x 1/2 “(25cm x 15cm x 1.25cm), dan memiliki dua lubang paku atau pasak pada salah satu ujung. Selain genteng berbentuk datar, juga ada yang berbentuk S, digunakan pada abad ke-18. Genteng ini dibentuk oleh tanah liat dengan menggunakan cetakan dari kayu, dan umumnya disebut pan, ubin bengkok, atau Flemish, rata-rata berukuran sekitar   14 1/2. “x 9 1/2″ (37cm x 24cm. Genteng tanah liat pada bangunan di pemukiman abad mid18th Moravia di Pennsylvania sangat mirip dengan yang digunakan di Jerman, berukuran sekitar 14″ 15″ panjang x 6″ 7” lebar (36cm 38cm x 15cm 18cm) dengan popor melengkung, dan dengan alur vertikal untuk membantu drainase. Mereka juga dirancang dengan lug atau pena pada bagian belakang sehingga genteng bisa bertahan pada reng tanpa paku atau pasak.
Genteng tanah liat di Indonesia

Indonesia telah mengenal tanah liat sebelum abad ke-20, saat itu sudah banyak warga yang membuat gerabah untuk alat-alat rumah tangga seperti tungku, gentong, padasan, blengker, jambangan, kendil, cowek, dan jubek dari tanah liat. Kerajinan tanah liat masih terus berlangsung sampai saat ini, keahlian turun-temurun tersebut konon merupakan hasil interaksi dengan kebudayaan China. Warisan keahlian membuat kerajinan tanah liat tersebut akhirnya berlanjut hingga pada pembuatan genteng dari tanah liat.

Kerajinan genteng muncul sekitar tahun 1920-an. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda melakukan penelitian untuk memetakan daerah-daerah yang memiliki tanah (liat) bagus untuk bahan atap bangunan.

Saat itu, dibentuklah Balai Keramik di Bandung. Beberapa daerah pengahasil tanah liat termasuk daerah Plered,  Banyuwangi, Kebumen merupakan salah satu dari sejumlah daerah yang memiliki potensi sentra genteng. Genteng-genteng tersebut dibuat untuk memenuhi pembangunan infrastruktur termasuk untuk dijadikan atap pabrik gula.
Pengenalan genteng sebagai atap juga dilakukan oleh tim kesehatan Belanda. Misi kesehatan dilakukan karena saat itu terjadi wabah pes. Saat itu, banyak tenaga kerja pribumi yang tidak bisa maksimal karena terserang penyakit tersebut. Terungkap bahwa ternyata sebagian besar rumah yang saat itu masih beratap rumbia menjadi penyebab penularan pes. Sebab atap sering dijadikan sarang tikus penyebab pes. Sejak saat itulah pembuatan genteng tanah liat di Indonesia semakin berkembang pesat hingga sekarang ini.

Saat ini ada ribuan industri genteng di Indonesia, diantara wilayah yang terkenal akan produk gentengnya adalah daerah Sokka di Kebumen, Jateng, Jatiwangi di Jawa Barat, Karangpilang di Surabaya, Godean di Yogyakarta, Kudus, Jawa Tengah, Bekonang di Solo dll.

Untuk memenuhi kebutuhan genteng di wilayah SoloRaya dan sekitarnya (Klaten, Sragen, Boyolali, Karanganyar, Surakarta, Pacitan, Wonogiri, Sukoharjo, Kartasura) maka kami hadir dengan pilihan dan harga terbaik.

Silahkan hubungi kami di:

Telp. 081310470721, Whatsapp 086710312442

 
Chat via Whatsapp